KMI Apresiasi Kapolda Metro Jaya Bentuk Tim Pemburu Begal, Dinilai Jawab Keresahan Warga Jakarta

Di tengah meningkatnya keresahan masyarakat akibat maraknya aksi pembegalan dan kejahatan jalanan di Ibu Kota, langkah cepat Polda Metro Jaya membentuk “Tim Pemburu Begal” mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Kaukus Muda Indonesia (KMI) yang menilai pembentukan tim khusus tersebut sebagai upaya konkret menghadirkan rasa aman bagi warga Jakarta.
Ketua Umum KMI, Edi Homaidi, menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polda Metro Jaya di bawah kepemimpinan Kapolda Metro Jaya, Komjen Pol Asep Edi Suheri, atas respons cepat dalam menekan angka kriminalitas jalanan yang belakangan meningkat di sejumlah wilayah Jakarta.
Menurut Edi, pembentukan Tim Pemburu Begal menjadi jawaban atas keresahan masyarakat terhadap maraknya kasus pencurian dengan kekerasan (curas) dan aksi begal, terutama pada malam hingga dini hari.
“Kami dari Kaukus Muda Indonesia mendukung penuh langkah tegas Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Asep Edi Suheri yang langsung meluncurkan Tim Pemburu Begal. Ini adalah tindakan nyata yang sangat dibutuhkan warga demi keamanan Jakarta,” ujar Edi di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Sebelumnya, Polda Metro Jaya membentuk tim khusus yang akan disiagakan di sejumlah titik rawan kriminalitas. Tim tersebut disiapkan untuk melakukan patroli dan tindakan cepat guna mencegah aksi kejahatan jalanan yang dinilai semakin meresahkan masyarakat.
KMI menilai stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) menjadi faktor penting bagi Jakarta, terlebih saat ibu kota terus memperkuat posisinya sebagai kota global. Menurut Edi, keamanan yang terjaga akan berdampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat dan iklim investasi.
Ia juga menegaskan bahwa ruang gerak pelaku pembegalan harus dipersempit melalui patroli yang konsisten dan tindakan tegas di lapangan.
“Kejahatan jalanan tidak boleh diberi ruang sedikit pun di ibu kota. Kami berharap tim khusus yang dibentuk oleh Bapak Kapolda ini bekerja secara konsisten dan melakukan tindakan tegas terukur di lapangan,” katanya.
Selain penindakan, KMI juga mendorong adanya kolaborasi antara kepolisian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan masyarakat dalam mencegah tindak kriminalitas. Upaya tersebut dinilai dapat dilakukan melalui optimalisasi penerangan jalan umum dan pemasangan kamera pengawas atau CCTV di titik-titik rawan.
Edi menilai kelompok masyarakat yang bekerja pada malam hingga dini hari menjadi pihak paling rentan menjadi korban kejahatan jalanan.
“Masyarakat kecil, seperti pedagang malam dan pekerja yang pulang dini hari, adalah pihak yang paling rentan menjadi korban begal. Kehadiran polisi di titik-titik rawan adalah bentuk nyata keberpihakan negara kepada rakyat kecil,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, KMI mengajak masyarakat dan elemen kepemudaan untuk turut berperan aktif membantu menjaga keamanan lingkungan serta mendukung langkah kepolisian menciptakan situasi yang aman dan kondusif di Jakarta.
“KMI siap menjadi mitra strategis Polda Metro Jaya dalam mengawal isu kamtibmas. Kami mengajak seluruh elemen pemuda untuk ikut menjadi mata dan telinga kepolisian demi mewujudkan Jakarta yang aman dan kondusif,” tutup Edi. (Ery)
